RSS

Perahu Kertas: Membawamu Ikut Berlayar


Dongeng tetaplah dongeng. Dengan akhir "And they live happily ever after". Jalan yang berliku, petualangan menegangkan, pengorbanan, doa-doa tulus, harapan tak pernah pupus, dan cinta sejati. Klasik sekali bukan? Dan cerita dongeng, meski klasik selalu memiliki penggemar setia, termasuk saya.

Karya Dee kali ini bisa saya bilang dongeng modern. Karena ceritanya memang klasik, seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Hanya saja, setting latar belakang ada di zaman modern. Atau sebenarnya dongeng itu sebuah cerita sepanjang zaman? Tanpa ada kata klasik atau modern. Ah, entahlah. Saya hanya merasa cerita dalam Perahu Kertas ini memiliki tema yang umum, tidak beda jauh dengan cerita-cerita cinta masa kini. Namun, saya jujur mengakui sangat sangat sangat excited saat membaca novel ini. Gaya tulisan Dee menakjubkan! Membuat saya betah tidak melepas novel tersebut dalam perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta-Bogor. Padahal sedang piknik keluarga, dan Dee dengan Perahu Kertas nya telah menyedot perhatian saya, mengajak berlayar lembar demi lembar halamannya.

Bercerita tentang Kugy, mahasiswi, eksentrik, pengkhayal dan menulis cerita. Saya suka bagaimana Dee menceritakan karakter Kugy. Karena Kugy seorang penulis dan pengkhayal, dia tampak "aneh". Mungkin terlalu sering asyik dan bermain-main dengan pikirannya, dunianya. Ia cerdas, baik hati, dan sensitif. Ya, saya yang juga penulis *ngaku-ngaku* merasakan hal itu. Sensitif, sering menyembunyikan perasaan sendiri, dan egois.

Lalu ada Keenan, si pelukis. Jujur saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi pelukis. Tapi sepertinya sifat sensitif dan pemalu menjadi bagian dari diri Keenan. Tentang Keenan, Dee berhasil mengaduk-ngaduk perasaan saya karena kesal pemuda tersebut tampak tidak bisa tegas terhadap perasaannya sendiri hampir di seluruh cerita. Tapi ya itu tadi, mungkin ia pelukis yang pemalu, yang sering merasa tidak enak dan ingin membuat orang lain bahagia. Meski sifat keras kepala khas lelaki tetap ada pada diri Keenan.

Untuk jalan cerita, ah sepertinya saya tidak perlu menceritakan detailnya. Saya hanya ingin mengomentari Dee yang piawai dalam menceritakan pribadi tiap tokohnya. Noni dan Eko yang ceria, tipikal sahabat sejati. Gadis Jakarta pecinta Keenan yang lebay ala artis sinetron. Luhde yang anggun dan rendah hati khas gadis Bali. Dari tokoh-tokoh ini, saya melihat Dee sangat mengeksplore kultur budaya. Noni-Eko yang khas mahasiswa Bandung, si gadis (lupa namanya euy) yang anak gaul Jakarta, juga Luhde yang menceminkan budaya Bali.

Saya suka buku ini, karena Dee mampu menghanyutkan emosi pembacanya.

456 pages
Published August 29th 2009 by Bentang Pustaka & Truedee (first published 2009)
ISBN13
9789791227780
primary language
Indonesian

"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." "Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

2 cuap:

marogi said...

Keren, yah. Saya juga takjub dengan gaya Mbak Dee yang mantep itu.
Ulasan saya mengenai Perahu Kertas ---> http://marogi.wordpress.com/2010/04/20/perahu-kertas/

Riezch said...

satu2nya novel karya dewi lestari (dee) yang pernah saya baca,,,
ceritanya keren bngt... sampe2 saya ikut nangis waktu ngebacanya,,,,