RSS

As Sweet As Chocolate

Selalu ada kesan, pada setiap kali aku menikmati rintik hujan di sore hari. Teringat pada sebuah kenangan masa SMA dulu. Percakapan pertamaku, dengan dirinya...

Sore hari, kala itu...

Aku sudah siap dengan payung di tangan. Buku-buku dalam tas sudah aku bungkus dengan plastik agar tidak basah. Handphone dan dompet kusimpan aman dalam jaket. Yup! Sekarang saatnya pulang menembus hujan yang tak kunjung berhenti mengguyur sejak siang tadi. Kulihat beberapa teman berdiri di depan pintu gerbang menatap derasnya hujan. Mungkin mereka masih ragu-ragu untuk pulang, mengingat angin yang berhembus kencang membuat ranting-ranting pohon berayun mengerikan, dan sangat berpotensi untuk menerbangkan payung serta membuat pakaian basah kuyup. Tapi aku sudah berniat untuk pulang secepatnya. Sekarang pun sudah terlalu sore dan bisa diperkirakan aku akan sampai rumah lewat waktu adzan Isya.

Aku berjalan menerobos jejeran orang yang berdiri di dekat pintu gerbang.

"Pulang sekarang, Rhe? Masih deras, loh." Salah seorang temanku mengingatkan.

Aku hanya tersenyum mengangguk sembari membuka payung warna biru laut milikku. Tepat saat itu, dari arah belakang seseorang menabrakku pelan, ikut berlindung di bawah payung yang baru saja kubuka. Aku menoleh kaget. Ya Tuhan, dia...

"Boleh ikut nebeng sampai pangkalan angkot?" pintanya. Rambut dan sebagian bajunya basah karena hujan.

Aku terpana melihatnya berada dalam jarak sedekat ini.

"Hey!" Pemuda itu melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.

"Ohya, boleh. Aku juga mau ke sana, kok." Jelas sekali suaraku terdengar sangat gugup. Semoga ia menyangka aku gugup karena kedinginan.

"Thanks banget. Aku lupa bawa payung padahal ada les sore ini," jelasnya. Ia mengambil alih gagang payung yang kupegang.

Kami berdua berjalan bersisian, keluar dari gerbang sekolah. Jantungku berdebar tak karuan. Serasa bagaikan mimpi, pemuda yang selama ini hanya aku lihat dari jauh dengan tatap penuh kagum, kini berdiri di sebelahku. Berjalan bersamaku, bahkan satu payung denganku! Tuhan, mimpi apa aku semalam?

Berjalan menyusuri trotoar, kami masih terdiam tak saling bicara. Aku jelas saja sangat gugup. Sedangkan dia...entah apa yang ada dalam pikirannya. Kulirik pemuda itu sekilas. Tubuhnya tinggi, aku hanya sebahunya. Rambutnya yang ikal tampak rapi seperti habis dicukur. Garis wajahnya tegas dengan warna kulit agak gelap. Manis. Ah, aku jadi tersipu sendiri...

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

7 cuap:

Ipung said...

weleh2...kayak di sinetron ya..hihi..

Ayu Ambarsari Hanafiah said...

humm.. hujan.ketemu gebetan.
saya jadi inget.. Cintappucino the movie! hehe*

waah.. Ga kebayang kalo bisa satu payung ma dia.. *ngarep*

^^v salam kenal ya rhein?

rayyan said...

Pasti payungnya masih disimpan sampai sekarang :P
Tiap hari gagang payungnnya dielus-elus ama Tia :P

semrawut said...

ciye.. suit..suit.. jd inget wkt muda & msh skolah *padahal skrg msh skolah, hehe..*

rhein fathia said...

[ipung] kehidapan itu panggung sandiwara dan sinetron :D
[ayu] iya nie..tapi kejadiannya duluan saya (loh?)
[A'Ray} we.. nggak senorak itu kali, A...
[semrawut] kamu masih sekolah, tapi tampang tua :D

terbangkelangit said...

Well, nggak nyangka deh ternyata Rhein juga normal yah, huehueheuhe...

rhein fathia said...

[terbangkelangit] weiss! saya memang normal...