RSS

Tulisan Ekor

Setahun lalu, 31 Desember 2007.

Aku ada janji dengan editorku di salah satu penerbit buku terkemuka di Indonesia yang bermarkas di Bandung. Ceritanya mau ngasih naskah. Waktu sampai di kantor, ternyata beliau sedang rapat. Ya sudah, aku menunggu. Kebetulan sekali bertemu dengan seorang ilustrator yang kukenal baik dan lama nggak ketemu. Karena sesama cewek, jadilah kami bergosip ria. Tentang apa-apa yang sedang terjadi di kantor penerbit tempat kami bernaung. Terus tentang penerbit-penerbit buku yang masuk daftar "black list" kami dikarenakan "pelit ngasih royalti" atau "system perjanjian jelek", "suka curang", "suka curi karya", dll. Yah...bahasan-bahasan yang menyangkut urusan ke-orisinalitas-an karya kami dan agak materialistis :D. Sampai tengah hari, temanku itu pulang.

Sekitar pukul 12.30, editorku selesai rapat dan langsung menemuiku. Ia menerima naskahku dan bilang "nanti kami pelajari dulu" (standar memang). Terus kami cerita-cerita. Tanya kabar masing-masing, tentang kondisi kantor sekarang, tren buku yang sedang laku di pasaran, dll.

Nah, pas bicara tentang tren buku itu, Mas editor bilang, "Coba kamu sadar tren, Tia. Liat novel-novel yang laku dipasaran sekarang, kayak novel ini, itu, ini (dia menunjukkan beberapa novel). Kamu baca-baca novel ini, terus bikin tulisan yang mirip. Tentu dengan alur dan gaya penceritaan khas kamu. Tapi tetap nggak beda dengan novel-novel yang lagi laris sekarang. Yang mirip-mirip lah."

What?! Ingin sekali aku protes saat itu juga. Tapi aku hanya diam dan melongo. Ada dua kubu yang berseteru dalam hati. Satu kubu tentu adalah diriku sendiri, sebagai seorang penulis. Aku suka nulis sejak SMP. Aku hanya nulis semua hal yang ingin aku tulis. Nggak peduli apa itu sesuai tren atau tidak, akan diterbitkan atau tidak, membuat orang berpikir aneh-aneh atau tidak. Aku nggak peduli itu. Yang penting nulis!

Aku suka nulis cerita tentang anak ABG dan remaja. Karena mereka adalah orang-orang yang masih cukup polos dan masih mudah untuk 'diwarnai'. Sosok para pencari jati diri, masih mencari-cari siapa mereka sebenarnya. Dan karena itulah aku menulis cerita untuk mereka, memasukkan nilai-nilai yang (menurut pengalamanku) baik. Tak lupa berisi tentang bagaimana dunia setelah mereka bermetamorfosis menjadi dewasa (meski aku juga belum dewasa). Aku ingin berbagi dengan mereka, agar mereka bisa lebih baik dari si penulis cerita.

Aku juga suka menulis cerita tentang science fiction. Dalam hal ini natural science. Bukannya sok keren atau sok pintar. Tapi lebih karena aku ingin orang-orang awam pun tahu bahwa science bisa 'ditangkap' dengan mudah oleh siapapun. Meracik 'bahasa' Schrodinger (yang ruwetnya ampun!), menjadi enak dibaca selayak novel roman. Aku ingin bisa seperti itu. Dan ingin orang-orang mengerti bahwa science itu mudah! Tergantung bagaimana kita menyampaikan, dan menerima penyampaian itu.

Nah, saat aku bilang aku sedang membuat novel science fiction, Mas Editor malah bilang, "Jangan, Tia. Science fiction lagi nggak laku di pasaran sekarang." Sekali lagi aku kaget dan melongo. Dia tetap menginginkan aku membuat novel yang mirip-mirip novel yang sedang tren sekarang. Hey! Aku cuma jadi ekor doang, dong? Belum lagi novel-novel yang tren sekarang itu "nggak gue banget" dan aku nggak suka. Sebutlah, "Hadist-Hadist Cinta", "Doa-Doa Cinta", "Desah Cinta" (cuma judul bo'ongan yang mirip dengan judul asli). Yang menurutku hanya mengedepankan romantisme mengharu biru tanpa ada sesuatu yang baru dan memberi inspirasi. Okelah tema itu memang tak lekang oleh waktu, tapi kalau membuat yang "mirip-mirip", tetap saja membosankan!

Ke kubu kedua. Melihat sosok penerbit memang di bidang bisnis. Mereka mencari keuntungan. Dan jelas nggak mau rugi. Karena itulah mereka mencari tulisan yang sesuai tren supaya laku dan mereka untung. Meski menurutku, seharusnya para penerbit itu bisa mengusahakan "karya-karya tak sesuai tren" menjadi tren dan laku di pasaran. Itu tantangan bagi mereka, kan?

Tapi okelah, aku hanya bisa mengambil jalan tengah. Aku tetap menulis sesuai keinginanku, dan mengusahakan penerbit mana yang berani mengambil tantangan untuk menerbitkan "karya bukan tren" itu. Juga tetap menulis "Tulisan Ekor", supaya penerbit dapat untung dan aku juga. Toh aku juga tidak memungkiri kalau aku butuh duit dari royalti. Belajar mengkompromi-kan keadaan dengan ego sendiri.

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

2 cuap:

tutekx said...

Easy Get Money
1. go to the following link; http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=tutekx Join this site. It is also free. You get paid for completing surveys over there 6$ to 4$ dollars per survey and 1.25$ per referral . have a 1 year premium account and now i am collecting some exta cash .
2. Then create a paypal PREMIUM Account at this address. It is free; http://www.paypal.com When asked for credit card details simply say cancel. You do not need to fill it . Another thing you can also use paypal money to buy stuff on ebay and other shopping sites.
3. Thats is it. So Simple and I swear it works.
4. I learnt this from another friend and i thought it will be good for my friends here. So I thought of helping
2. Try Now Klik Here

1. go to the following link; http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=tutekx Join this site. It is also free. You get paid for completing surveys over there 6$ to 4$ dollars per survey and 1.25$ per referral . have a 1 year premium account and now i am collecting some exta cash .
2. Then create a paypal PREMIUM Account at this address. It is free; http://www.paypal.com When asked for credit card details simply say cancel. You do not need to fill it . Another thing you can also use paypal money to buy stuff on ebay and other shopping sites.
3. Thats is it. So Simple and I swear it works.
4. I learnt this from another friend and i thought it will be good for my friends here. So I thought of helping
3. Try Now Klik Here

Bayu said...

Keren gua aja nulis buku lom selesai - selesai banyakan malesnya hehehehe

BTW menurut gua editor emang liatnya dari bisnis kalo gak dia rugi cuman menurut gua lagi nich kalo emang beda udah beda pendapat meningan tinggalin tuh editor (dengan asumsi bahwa loe nyadar dan yakin bahwa bukumu emang layak untuk diterbitkan). banyak loh buku (sampe saat ini masih gua baca) yang "gak laku" ternyata laku juga tuh