RSS

Kisah Seorang Wanita

Ia lahir di sebuah keluarga yang cukup berada. Ayah Ibunya bekerja sebagai pedagang ikan yang sukses dan terkenal di seantero kota kecil itu. Gampangnya, tinggal sebut nama si Ayah, orang-orang di kota itu pasti kenal. Masa kecilnya dilalui dengan hidup yang serba berkecukupan. Apa-apa dilayani, ingin ini-itu dikabulkan. Ditambah dengan parasnya yang cantik dan berkulit putih (maklum, ayahnya blasteran Belanda), sifatnya yang ramah dan menyenangkan, membuatnya disukai oleh siapa saja. Meski begitu dia juga tomboy dan terkadang suka bertindak seenaknya sendiri.

Dengan otaknya yang encer, ia berhasil masuk SMP favorit. Sayang, di saat ia melalui masa ABG-nya, Ayahnya mendapat musibah. Usahanya bangkrut, hutang dimana-mana, seluruh kekayaan habis. Keluraga terpandang itu, harus terpuruk. Rumahnya yang besar harus dijual dan mereka mengontrak sebuah rumah panggung nyaris runtuh yang terbuat dari bilik. Gadis belia yang punya sifat gengsian ini tidak ingin teman-temannya tahu tentang keluarganya. Ia masih tetap berpenampilan seperti seorang putri. Pakaian, sepatu, tas, semua serba bagus. Namun ia tidak pernah mengajak teman-temannya datang ke rumahnya karena malu. Yang ada di pikirannya hanya, "Aku harus pintar, maka orang lain tidak akan memandangku rendah,". Karena itulah peringkat tiga besar tak pernah lepas dari tangannya.

Ayahnya yang depresi, melarikan diri ke hal-hal berbau mistik dan wanita. Percaya pada dukun, dan nikah lagi berkali-kali. Dengan alasan, "Kata dukun, kalau mau kaya lagi harus nikah berkali-kali." Sebuah alasan yang sangat tidak logis bagi si gadis. Rasa malu-nya semakin bertambah saat teman-temannya tahu tentang keluarga mereka dan sering meledeknya.

Beranjak SMA, ia pergi dari kota kecilnya. Sekolah di luar kota dan jauh dari semua hal yang menyangkut keluarga. Melarikan diri? Mungkin saja. Ia pergi, dengan rasa cinta pada ibu dan keenam adiknya dan rasa benci pada ayahnya.

Melewati masa remaja di kota kembang tanpa keluarga, membuatnya merasa bebas, namun tetap belajar bertanggung jawab. Seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar dan berteman dengan banyak orang. Ia bahagia dengan dunianya. Hingga saat kelas dua, sebuah telegram mengabarkan ayahnya meninggal. Hatinya langsung remuk redam Sebenci apapun gadis itu pada Ayahnya, masih tetap ada cinta di hatinya. "Itu pertama kalinya aku patah hati." tuturnya suatu hari padaku.

Semenjak ayahnya tiada, sebagai putri sulung ia menjadi tulang punggung keluarga. Sembari kuliah ia bekerja di sebuah perusahan asing dengan gaji lumayan. Menghidupi seluruh seluruh keluarganya.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria dan saling jatuh cinta. Sayangnya, cinta mereka yang teramat dalam, mesti dipisahkan oleh perbedaan agama. Satu minggu setelah ia menikah dengan pria lain yang muslim, kekasihnya itu menelpon dan berkata, "Kini namaku sudah berganti Muhammad." Makin syok-lah gadis itu. Namun ia tidak menyesal dengan keputusannya. Ia tetap tegar menghadapi semuanya. Mencoba mencintai semua hal yang ia miliki.

Kepintarannya membuat ia lulus dalam seleksi beasiswa melanjutkan sekolah ke Eropa. Berbagai macam tes dijalani dan semuanya lulus. Hingga tes terakhir tentang kesehatan, ia dinyatakan hamil. Dan buyarlah rencana sekolah di Eropa itu. Kehamilan anak pertama cukup membuatnya stress, namun karirnya yang melesat cukup menghiburnya. Sayangnya, setelah anak pertama lahir, sang suami mengeluarkan perintah, "Berhenti kerja, urus anak dan rumah.". Makin hancurlah hatinya. Semua yang menjadi impiannya buyar. Sekolah tinggi dengan nilai sangat baik, apa gunyanya jika kembali ke dapur?, begitu pikirnya.

Hingga kini, wanita itu masih mengabdikan diri pada suami, anak, dan keluarganya. Sudah bisa menerima semua takdir yang Tuhan garisan untuknya. Membuatnya memiliki banyak cinta yang berlimpah dan tak pernah habis. Mengikuti jejak ayahnya, ia pun menjadi pengusaha kecil-kecilan dengan berjualan pakaian butik dan persewaan peralatan pesta. Plus berbagai macam kegiatan sosial.

Wanita itu... adalah ibuku. Anak yang dikandung dan mengacaukan banyak cita-citanya, adalah aku.

Untuk seorang Ibu yang pernah bercita-cita untuk tidak menjadi seorang Ibu. Selamat Ulang Tahun, Bu. Aku sangat mencintaimu... ^_^


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

4 cuap:

praditya.net said...

Terharu...

Eucalyptus said...

Wah.... bener2 kisah nyata yang mengharukan.... smoga ibu kamu selalu kuat seperti yang sudah beliau jalani selama ini ya. Salut buat ibumu!!!

siska said...

mbak, aku ikut ngucapin met ultah buat bunda-nya ya....

hiks, pengen nangis...*udah nangis denk*

nindityo said...

wow..
(gak bisa bicara)