RSS

Novel Detektif

Kemaren waktu jalan-jalan bareng nak HAAJ di Pasar Festival, sempat mampir ke sebuah toko buku yang menurutku unik. Di sana dijual banyak buku-buku yang termasuk langka. Yang jarang banget bisa ditemuin di toko buku biasa. Kebanyakan buku impor memang. Tapi tetap menarik, kok. Plus harganya murah pula.

Terus, aku nemu buku di samping ini. Duuhhh... Jadi kangen. Pertama kali baca buku ini waktu SMP pas di Semarang dulu. Itu pun bukunya nemu di ruang Tata Boga waktu mau praktek masak. Judulnya "Misteri Jam Menjerit". Tuh buku ditemukan dalam keadaan sekarat, udah sobek, plus jamuran! Tapi akhirnya buku temuan itu kubawa pulang.

Sejak saat itu, malah jadi ketagihan. Dan mulai berburu buku-buku karangan Alfred Hitchcock itu. Banyak banget serialnya. Dan aku suka semua. Dibanding "5 Sekawan", "STOP", atau cerita detektif remaja sejenisnya, aku emang paling suka "Trio Detektif" ini. Mulai dari situlah aku jadi sering baca Agatha Christie, Sir Arthur Conan Doyle, dan novel detektif lain.

Dan karena suka cerita detektif itulah, aku membuat novel pertamaku yang judulnya: "The Case". haha... itu novel nggak pernah selesai sampai sekarang. Ceritanya tentang 10 orang profesor yang sedang membuat sebuah senjata nuklir. Senjata itu bisa jadi pendamai dunia, tapi juga pengacau. Nah, ada seorang pembunuh bayaran, yang mulai membunuh satu per satu profesor itu. Ternyata ia dibayar oleh salah seorang profesor tadi. Tapi siapa?

Yang menjadi detektif di sini adalah puteri salah seorang Profesor bernama Sharon (namanya gue ambil dari 'marga' gue sendiri: Syahroni, Haha ^o^), dan seorang putera kepolisian, namanya lupa :p. Kasus berlanjut sampai akhirnya profesor yang tersisa harus bersembunyi di salah satu pulau terpencil untuk menjauh dari si pembunuh. Namun ternyata bahaya makin mengintai mereka dan kedua detektif itu.

Bagaimana kelanjutannya? Aku juga bingung untuk bikin kasus rumitnya.... hahaha :)) Ada yang punya ide?


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Playboy Surga

Emang ada? Humm... Itu istilah yang sempat "hot" di kalangan cewek fisika. Berawal dari curhat seorang teman berjilbab lebar (istilahnya 'akhwat'), tentang seorang Primus (pria musala alias 'ikhwan') yang hobi Tepe-Tepe a.k.a Tebar Pesona.

Aku yang dulu juga pernah di dunia itu, hanya tersenyum mengerti. Memang banyak kok, ikhwan-ikhwan yang rajin ngaji, shalat, ikut kajian ini itu, ngisi kajian kesana kemari, menyebar kebaikan dan kebajikan, berkoar-koar tentang "jaga hati" agar tak terkena VMJ (aktifis dakwah pasti tahu itu), toh kalau bertemu kamu Hawa, tetap saja begitu. Ah, begitu bagaimana? Buat yang setengah ikhwan (dikenal dengan 'bakwan'), biasanya masih suka ngobrol ngalor-ngidul dan curhat-curhatan sama cewek atau akhwat. Buat yang 'tiga perempat' ikhwan (ga tau istilahnya), biasanya cuma berani lewat sms aja (apalagi ke akhwat yang ditaksirnya), pura-pura tanya tugas atau aktifitas dakwah, sampai sok ngingetin waktu shalat (halah, basi banget ini). Kalau yang ikhwan beneran? Wah, ini lebih terselubung lagi. Biasanya pura-pura sms yang isinya ayat Qur'an dan Hadist. Dikirimnya juga nggak ke satu orang saja, supaya nggak ketahuan (O-ow, kamu ketahuan...-Matta Band-).
Itulah yang sering dikeluhkan teman-teman akhwatku. Atau, kalaupun para ikhwan itu sangat menjaga jarak dengan para akhwat, tapi kalau berhadapan dengan 'cewek', mereka jadi lebih terbuka dan 'penjagaan'nya kurang.
Mari kita coba lihat dari sisi lain. Sisi di mana ikhwan juga makhluk yang berkecenderungan mencintai lawan jenis. Lupakan apakah ia aktifis dakwah, aktifis kampus, aktifis partai, aktifis "green peace", aktifis apapunlah. Ia, tetaplah seorang pria. Seperti postinganku sebelumnya di "Naluri Pria", cukup jelas disebutkan bahwa pria memang ingin 'keliatan' di mata wanita. Ia ingin merasa berjasa, ia ingin dibutuhkan, ingin tampak hebat, de-el-el. Seperti itulah pria normal. So, wajar saja kalau para ikhwan juga begitu. Se-alim apapun pria, bahkan yang kalau bicara dengan wanita sambil nunduk atau membelakangi, di hatinya juga masih ada rasa deg-degan dan ingin 'keliatan'.
Hal seperti di atas pun tidak hanya berlaku pada pria, tapi pada wanita juga. Wanita yang suka diperhatikan, ingin dicintai, ge-eran. That's normal, right? Fitrah itu, tak bisa ditolak. Ia hanya bisa dikendalikan. Dan sepertinya kita tidak perlu mengeluhkan fitrah itu selama masih berada dalam koridor norma dan agama. Tapi kalau di-cap Playboy Surga, mau?


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Kontrol Tuhan

Kemarin sempat mendengar anekdot seperti ini: Tuhan bisa mengatur semua hal yang ada di semesta. Hanya satu yang tidak bisa dikontrol Tuhan, yaitu uang. Karena tiap agama membutuhkan uang.

Well, dengan tidak bermaksud menyinggung SARA dan memancing pertengkaran ^_^v

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Sempurna

Seperti biasa, sering terjadi percakapan-percakapan nggak penting di kampus. Seperti pada suatu hari.

Teman : "Pet, tipe cowok yang lu pengen untuk jadi suami kayak gimana?"
Aku : "Yang ganteng, postur tubuh tinggi, tajir, cerdas, berpendidikan, pekerja keras, bertanggung jawab, ramah, humoris, cinta sama gue, bisa ngertiin gue, mau bantu-bantu urusan rumah, tegas, romantis, penyayang, terus..."
Sekilas kulirik wajah temanku yang sudah pasang tampang ilfeel itu.
Teman : "Lu mau beli di toko mana?!" tanyanya sebal.

Tak perlu disangkal, seringkali 'para pencari pendamping' memang sudah membuat daftar list syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi sang 'calon pendamping' nanti. Baik ditulis secara resmi di sebuah catatan atau hanya dicatat dengan rapi dalam memori otak. I said, that's normal! Kita manusia yang selalu punya impian, bahkan untuk memimpikan sesosok manusia. Yah, meski tak bisa dipungkiri, syarat-syarat itu juga masih bisa muncul dari kanan-kiri. "Nak, cari suami yang profesinya -xxx-, ya. Gajinya gede." atau seperti ini, "Nak, cari istri yang penurut dan bisa ngurusin kamu, ya.". Itu baru dari ortu. Belum dari adek, kakak, sepupu, keluarga besar, waaahhh....!

Nantinya, saat sudah susah-susah cari dan akhirnya dapet, pasti masih juga dikomentarin. Mulai dari masalah agama sampai bau badan, bisa dijadikan bahan untuk "coba pikirkan kembali". Aaahhhh....sulitnya... Untuk para pria, biasanya mensyaratkan sosok istri yang pintar masak. Oh guys, kalian itu cari istri atau cari koki untuk usaha katering? (cara ngeles wanita yang tak bisa masak ^_^v)

Terlalu banyak mengajukan syarat untuk 'calon pendamping', bisa memiliki dua arti. Pertama, berarti sama saja dengan mengajukan syarat untuk diri sendiri. Misal kita sudah bertemu Mr/Ms. Perfect, of course dia juga akan berfikir, "Lu punya apa untuk jadi pendamping gue?". Kalau kita hanya sosok biasa-biasa saja (apalagi dibawah biasa), memangnya dia mau? Setidaknya, minimal kita punya 'harga' yang sama dengan dia. Kedua, berarti sama saja dengan menunjukkan keegoisan diri sendiri. Siapa sih, yang mau jadi pendamping orang egois? Kamu mau di-cap egois?

Seringkali kita mencari sosok yang sempurna, namun percayalah, bahwa sebenarnya bukan kesempurnaan itu yang kita inginkan. Aku cukup percaya, Lelaki baik-baik untuk wanita baik-baik. Wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik. Meski kata 'baik' itu berarti sangat luas. Dan tentunya dengan tidak melupakan adanya kesamaan prinsip, visi, misi, dll. Yah, apa salahnya memperbaiki diri?

Teman : "So, apa kriteria calon suami yang lu pengen? Gue serius!"
Aku : "Hmm...Cukup dia taqwa sama Allah, punya cinta, sayang, hormat, dan tanggung jawab pada keluarga."
Aku tersenyum puas atas jawabanku sendiri. Tapi si Teman masih tetap menatap ilfeel.
Teman : "Itu sama susahnya, Neng! Lu mau beli di toko mana?!"


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Izin Libur

Berhubung si Leptok (nama laptopku) lagi 'sakit', jadi mau dibawa sama Bapak ke tempat asalnya dulu. So, tanpa si Leptok aku tak bisa nulis posting plus nge-net. Libur dulu, deh. Sampai waktu yang tidak diketahui. Mudah-mudahan aja cepet. Huhu... Bagaimana hari-hariku tanpa si Leptok ;( Sedih sekali... >_<

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Kisah Seorang Wanita

Ia lahir di sebuah keluarga yang cukup berada. Ayah Ibunya bekerja sebagai pedagang ikan yang sukses dan terkenal di seantero kota kecil itu. Gampangnya, tinggal sebut nama si Ayah, orang-orang di kota itu pasti kenal. Masa kecilnya dilalui dengan hidup yang serba berkecukupan. Apa-apa dilayani, ingin ini-itu dikabulkan. Ditambah dengan parasnya yang cantik dan berkulit putih (maklum, ayahnya blasteran Belanda), sifatnya yang ramah dan menyenangkan, membuatnya disukai oleh siapa saja. Meski begitu dia juga tomboy dan terkadang suka bertindak seenaknya sendiri.

Dengan otaknya yang encer, ia berhasil masuk SMP favorit. Sayang, di saat ia melalui masa ABG-nya, Ayahnya mendapat musibah. Usahanya bangkrut, hutang dimana-mana, seluruh kekayaan habis. Keluraga terpandang itu, harus terpuruk. Rumahnya yang besar harus dijual dan mereka mengontrak sebuah rumah panggung nyaris runtuh yang terbuat dari bilik. Gadis belia yang punya sifat gengsian ini tidak ingin teman-temannya tahu tentang keluarganya. Ia masih tetap berpenampilan seperti seorang putri. Pakaian, sepatu, tas, semua serba bagus. Namun ia tidak pernah mengajak teman-temannya datang ke rumahnya karena malu. Yang ada di pikirannya hanya, "Aku harus pintar, maka orang lain tidak akan memandangku rendah,". Karena itulah peringkat tiga besar tak pernah lepas dari tangannya.

Ayahnya yang depresi, melarikan diri ke hal-hal berbau mistik dan wanita. Percaya pada dukun, dan nikah lagi berkali-kali. Dengan alasan, "Kata dukun, kalau mau kaya lagi harus nikah berkali-kali." Sebuah alasan yang sangat tidak logis bagi si gadis. Rasa malu-nya semakin bertambah saat teman-temannya tahu tentang keluarga mereka dan sering meledeknya.

Beranjak SMA, ia pergi dari kota kecilnya. Sekolah di luar kota dan jauh dari semua hal yang menyangkut keluarga. Melarikan diri? Mungkin saja. Ia pergi, dengan rasa cinta pada ibu dan keenam adiknya dan rasa benci pada ayahnya.

Melewati masa remaja di kota kembang tanpa keluarga, membuatnya merasa bebas, namun tetap belajar bertanggung jawab. Seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar dan berteman dengan banyak orang. Ia bahagia dengan dunianya. Hingga saat kelas dua, sebuah telegram mengabarkan ayahnya meninggal. Hatinya langsung remuk redam Sebenci apapun gadis itu pada Ayahnya, masih tetap ada cinta di hatinya. "Itu pertama kalinya aku patah hati." tuturnya suatu hari padaku.

Semenjak ayahnya tiada, sebagai putri sulung ia menjadi tulang punggung keluarga. Sembari kuliah ia bekerja di sebuah perusahan asing dengan gaji lumayan. Menghidupi seluruh seluruh keluarganya.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria dan saling jatuh cinta. Sayangnya, cinta mereka yang teramat dalam, mesti dipisahkan oleh perbedaan agama. Satu minggu setelah ia menikah dengan pria lain yang muslim, kekasihnya itu menelpon dan berkata, "Kini namaku sudah berganti Muhammad." Makin syok-lah gadis itu. Namun ia tidak menyesal dengan keputusannya. Ia tetap tegar menghadapi semuanya. Mencoba mencintai semua hal yang ia miliki.

Kepintarannya membuat ia lulus dalam seleksi beasiswa melanjutkan sekolah ke Eropa. Berbagai macam tes dijalani dan semuanya lulus. Hingga tes terakhir tentang kesehatan, ia dinyatakan hamil. Dan buyarlah rencana sekolah di Eropa itu. Kehamilan anak pertama cukup membuatnya stress, namun karirnya yang melesat cukup menghiburnya. Sayangnya, setelah anak pertama lahir, sang suami mengeluarkan perintah, "Berhenti kerja, urus anak dan rumah.". Makin hancurlah hatinya. Semua yang menjadi impiannya buyar. Sekolah tinggi dengan nilai sangat baik, apa gunyanya jika kembali ke dapur?, begitu pikirnya.

Hingga kini, wanita itu masih mengabdikan diri pada suami, anak, dan keluarganya. Sudah bisa menerima semua takdir yang Tuhan garisan untuknya. Membuatnya memiliki banyak cinta yang berlimpah dan tak pernah habis. Mengikuti jejak ayahnya, ia pun menjadi pengusaha kecil-kecilan dengan berjualan pakaian butik dan persewaan peralatan pesta. Plus berbagai macam kegiatan sosial.

Wanita itu... adalah ibuku. Anak yang dikandung dan mengacaukan banyak cita-citanya, adalah aku.

Untuk seorang Ibu yang pernah bercita-cita untuk tidak menjadi seorang Ibu. Selamat Ulang Tahun, Bu. Aku sangat mencintaimu... ^_^


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Iseng

Iseng-iseng ikut kuis ini...
Ternyata aku ini tipe Puteri....



Which Disney Princess Are You?

You are Cinderella. You are hard-working and never complain, however, your trust is sometimes misplaced and people sometimes take advantage of you. Still, you are beautiful inside and out, and one day you will realize it and find true love.
Find Your Character @ BrainFall.com
Hehe .... :D

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Naluri Pria

Beberapa teman cowok sering protes karena sifatku yang terkadang suka memanfaatkan kaum mereka. Minta tolong ini itu, pinjam itu ini, antar kesana-kemari, dll. Mereka bilang, "Lu jadi cewek gitu banget, sih?". Belum lagi kalau narsis dan matre-ku kumat. Hoho...sudah ilfeel duluan mereka. Tapi, mereka enjoy-enjoy saja tuh berteman denganku. Meski sering kupalakin macam-macam :D

Pernah dengar quote: "Naluri wanita adalah ingin dicintai. Naluri pria adalah ingin dibutuhkan." So, kalau dipikir-pikir, naluri pria itu sesuai dengan prinsip "asas manfaat" yang selama ini kupegang, kan? Toh, mereka ingin dibutuhkan, dan aku butuh bantuan mereka. Klop sekali... Hoho... ^o^

Aduh, ini postingan nggak jelas ditengah tugas dan uas yang melanda...

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Deadline Akhir Tahun

Banyak orang sudah punya rencana macam-macam menjelang akhir tahun untuk menyambut tahun baru nanti. Ada yang mau pergi bareng keluarga, temen, pacar, dll. Atau berencana untuk merenung dan mengevaluasi diri. Pastinya, pergantian tahun tidak ingin terlewat begitu saja.

Bagiku juga sama. Menjelang akhir tahun ini cukup 'spesial' dengan berbagai macam tugas plus kerjaan yang harus selesai sebelum tahun baru nanti. Pertama, novel ketigaku. Mas Editor sudah teriak-teriak dari dua bulan lalu agar naskahku cepat-cepat diselesaikan. Masih terngiang perkataan beliau sebulan lalu, "Janji loh, ya? Akhir tahun kamu datang ke sini (kantor penerbit) jangan cuma buat main doang. Tapi bawa naskah!". Insya Allah....

Kedua, tugas kampus. Proyek simulasi alat dengan EWB. Presentasi dan makalah Listrik Magnet. Makalah dengan tema aplikasi fisika apapun untuk kuliah Komputasi Fisika. Tugas Medan Elektronika I.

Ketiga, HAAJ. Aku sudah janji akan membuat desain pamflet dan kalender 2008 versi HAAJ. Sebuah janji nggak jelas karena aku sama sekali nggak bisa desain.

Tapi tetap harus SEMANGAT!! ^o^/


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Sahabat v.s Pacar

Pilih Mana?

Aku punya keduanya. Dua-duanya cowok (pastinya, karena aku cewek normal yang nggak mungkin punya pacar cewek), dua-duanya tinggal di kota yang sama namun tidak satu kota denganku, dua-duanya pria cerdas, dua-duanya punya banyak fans cewek karena kebaikan hati mereka, dua-duanya nggak ganteng (piss... ^_^V). Sayangnya, karena satu dan lain hal, dua-duanya tidak bisa berteman baik bahkan hanya untuk berbincang ringan. Jadi, jika ingin bertemu sahabat, harus tinggalkan pacar, begitu pula sebaliknya. Aku yang capek.... :p Padahal jarang sekali aku datang ke kota mereka dan tidak bisa tinggal lama.

Tentang sahabat. Kami bertemu saat duduk di bangku SMA. Dan persahabatan mulai terjalin karena banyak kemiripan diantara kami berdua. Sama-sama satu kelas, sama-sama hobi jalan-jalan, sama-sama cuek sama pendapat orang, sama-sama jail, sama-sama berkepribadian unik, sama-sama sok punya sixth sense yang bisa menebak karakter atau nasib seseorang, dan kami bisa saling mengerti apa-apa yang ada di dalam benak meski tanpa berkata-kata.

Aku selalu bisa tertawa bila bersamanya. Meski orang-orang lebih mengira kami bertengkar karena sering memperdebatkan hal-hal remeh yang nggak penting, tapi sebenarnya karena kami sama-sama nggak mau kalah (tuh kan, sama lagi). Kami juga sering bermimpi akan masa depan, menciptakan angan-angan tentang dunia kami. Menyenangkan ^_^. Tertawa bersamanya selalu terasa membahagiakan. Eh, dia pernah juga membuatku menangis. Hanya satu kali, dan itu membuatnya sangat menyesal dan minta maaf berkali-kali. Hihi... Aku selalu ingat itu :p

Suatu hari, dia pernah berkata, "Gua seneng kalau lagi sama lu. Gua bisa jalan-jalan, ketawa-ketawa, stress gua ilang. Tapi sebuah hubungan serius nggak akan bisa berjalan kalau isinya cuma seneng-seneng doang. Pasti ada sedihnya, ada nangisnya. Dan gua nggak mau itu terjadi sama lu. Kalau sama lu, gua pengen kita seneng-seneng dan ketawa bareng aja."

Dan aku tersenyum, setuju. Aku pun ingin persahabatan tetap seperti ini saja ^_^.

Berlanjut tentang pacar. Jujur saja, saat awal bertemu, aku yang pertama duluan pdkt sama pria itu. Bukan karena cinta atau naksir, tapi karena urusan bisnis! Dia adalah orang yang cukup kompeten untuk bisa melancarkan urusanku. Hehehe... :D (Aku wanita cerdas penganut 'asas manfaat'). Saat bisnisku ternyata tidak lancar dan aku malas melanjutkan, kutinggalkan saja dia. Namun ternyata eh ternyata, gantian dia yang pdkt. Hihihi... :p

He is a nice man. Meski sudah berkali-kali aku bilang kalau dirinya hanya aku manfaatkan, tapi dia tetap saja mau menemaniku. Dia sendiri sering bilang, "Kamu itu matre, suka ngerepotin, jutek, nggak romantis, manja, cuek...". Entah bodoh atau cinta buta, aku nggak ngerti. Hanya saja, aku nyaman saat bersamanya. Dia yang mengajarkan aku untuk selalu jujur pada diri sendiri. Dia yang bisa membongkar ke-introvert-anku. Namun berbeda dengan sahabat, saat bersamanya, aku terlalu sering menangis.

Dia mengajarkanku banyak hal. Mulai dari belajar fisika kuantum (nggak romantis banget pacaran malah ngobrolin fisika kuantum, yak?), sampai belajar masak. Maklum sodara-sodara, pria ini koki yang cukup handal, sedangkan aku cuma bisa masak yang instan-instan saja :p. Dari dia juga aku belajar banyak hal penting tentang pola pikir pria, hingga aku mengerti bagaimana seorang wanita bisa menjaga dirinya sendiri dari serbuan ganas kaum adam (langsung dari sumbernya, bo!). Bagiku, dari awal hingga sekarang bersamanya, adalah sebuah proses pembelajaran yang berharga. Hanya satu yang aku kurang suka darinya, dia hampir selalu bisa melakukan semuanya sendiri.

Opini sahabat tentang pacarku, "Kok dia selalu jutek banget sih sama gue? Emang dia nggak ngeliat gue ada di sebelah lu apa?". Aku nyengir, "Dia cemburu, dudul!"

Sedangkan opini pacar tentang sahabatku, "Aku nggak akan pernah bisa masuk ke dunia kalian. Setiap kalian berdua ketemu, kalian selalu ngobrol dan heboh berdua. Seolah-olah kalian menciptakan dunia sendiri tanpa seorang pun bisa memasukinya." Aku terdiam.

Hhhffff.... Kalian berdua pria istimewa buatku.

Humm...cerita diatas cocok banget buat novelku berikutnya yah?


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Mendadak Artis

Minggu, 2 Desember 2007. Aku datang ke acara seminar kepenulisan yang diadakan oleh FEM IPB. Baru saja sampai ke auditorium rektorat tempat diadakannya acara, aku langsung terpukau oleh peresembahan puisi dari Bapak Taufik Ismail. Judulnya kalau nggak salah, "Kupu-kupu Dalam Buku". Oooh...sungguh menggugah!

Aku yang terkagum-kagum dan terbengong-bengong sampai tidak sadar saat diingatkan seorang panitia, "Mbak, silahkan duduk di depan. Sebentar lagi sesi ke-dua.". Benar sodara-sodara, kali ini aku datang ke seminar penulis bukan sebagai peserta seperti biasanya. Tapi sebagai pembicara!! Oh, Gosh... Jiper sekali jika aku harus bercerita tentang kepenulisan setelah Taufik Ismail bercerita tentang pengalamannya di dunia tulis-menulis! Hiks..hiks.. Jomplang! Nggak level! But the show must go on! ^o^/ Dan akhirnya dengan style-ku sendiri (yang sok norak padahal nervousnya ampun!), berceritalah aku tentang tulis-menulis. Cara, tips, trik, dll, kupas tuntas.

Setelah aku tampil (ciee...) bersama seorang editor dari Gramedia dan seorang Dosen IPB yang menyuguhkan topik tentang Karya Ilmiah, ada sesi ke-tiga yang diisi Dyan Nuranindya (kenal "Dealova", kan?), Dhony Dirgantara (Ga gaul kalau nggak kenal "5cm"), dan Habbibburahman El Shirazy ("Ayat-Ayat Cinta" gitu lowh..). (Maaf kalau penulisan salah). Aku makin jiper dan sadar diri diantara mereka semua, aku yang paling nggak terkenal. Huu...hu...inilah akibat nggak konsisten menelorkan karya v_v.

Acara finish, aku sudah siap-siap pulang. Tapi ternyata eh ternyata, beberapa peserta berdatangan "Mbak, minta tanda tangan, dong. Mbak, minta foto, dong..." Haaa?? Dan akhirnya, jadilah aku artis dadakan yang dikerubutin para fans! (noraknya kumat). Satu selesai, datang rombongan lain. Berganti-ganti, bahkan ada yang berebutan. Yang lucu, kalau fans cowok pada minta foto berdua aja. Hihi... ;p Maklum, aku kan...(nggak mau narsis ah... ^.^). Seneng banget datang ke acara ini.

Yang lucu, saat para fans (uhuk!!) ribut-ribut memanggil "Mbak Rhein...Mbak Rhein...", eh...temen-temen SMA-ku juga datang dan berteriak "Tipheettt!!!". Aaah... Menurunkan pasaran. Hahaha ^o^

Berikut foto-foto narsisnya... ^_^


-Pak Taufik Ismail dengan puisinya- -bareng moderator gokil-


-Raja dan para Selir. Eh, ga ding, -sama beberapa fans ;p-
itu aku, Mas Dhony, Dyan-


-aku, Mbak Ike (editor gramedia),
Dyan, Mbak Vera (editor Gramedia)-



"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

On Time!

Aku mulai belajar disiplin waktu dari rumah pastinya. Bapak-Ibu paling anti sama yang namanya ngaret. Apalagi kalau janjian sama orang lain. Meski sering kali dikecewakan karena orang yang diajak janjian itu hampir selalu ngaret dengan alasan, maklum Indonesia. Huh! Kalau dimaklumi terus, kapan Indonesia mau maju? Betul tidak, sodara-sodara?

Beranjak SMP, aku masuk SMP 2 Semarang yang sangat-sangat menerapkan disiplin. Mulai dari warna tali sepatu sampai bentuk jepit rambut dan kaos dalam, diatur dalam "undang-undang" ketertiban siswa. Apalagi dalam disiplin waktu. Udah mah masuknya jam 06.45 (bukan 07.00 seperti sekolah biasa), telat 1 menit aja kena hukum. Nggak ada toleransi! Pernah dalam satu caturwulan (belum zaman semester waktu itu), aku terlambat 2 kali, dan ortuku langsung dipanggil. Bayangkan sodara-sodara, 1 caturwulan itu 4 bulan dan terdiri dari kurang lebih 120 hari. Aku telat 2 hari, langsung jadi kasus. Tapi itu berhasil banget membuatku sangat menghargai waktu.

Sayangnya, saat SMA aku masuk DKM (Dewan Kerja Masjid) alias Rohis yang mengajarkanku bagaimana itu ngaret! Jujur, aku kaget banget waktu tahu betapa ngaretnya temen-temen di Rohis itu. Saat kutanya kenapa (tanya kenapaaaaa????), jawab mereka, "Aaah...itu mah emang udah biasa..." Gendek banget!! Sungguh miris memang, sekumpulan orang yang mengaku ingin menegakkan Islam tapi nggak bisa menghargai waktu. Padahal Islam saja mengatakan kalau waktu itu bagaikan pedang, bisa membunuh kalau disia-siakan.

Dan jujur lagi, hal seperti itu masih berlanjut sampai saat ini. Masih banyak yang mengaku organisasi Islam tapi kalau janjian ngaretnya naudzbillah. Entah untuk rapat, mau ngadain acara, dll. Oh, I see.... mereka emang para aktifis yang terlalu aktif sehingga terlalu sibuk. Makanya, sekarang ini kalau janjian sama para aktifis itu, aku sering mengaretkan diri. Bukan ikut-ikutan, tapi kupikir, daripada waktuku habis menunggu mereka, lebih baik aku ikutan ngaret dan melakukan sesuatu yang lebih berguna sebelumnya. Setuju tak?

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."