RSS

9 vs 10

Terlahir sebagai anak sulung memang sudah takdirku. Dengan 2 orang adik yang WAJIB diberi contoh hal-hal baik, seperti yang ibu sering bilang, "Sebagai kakak harus kasih contoh yang baik buat adik-adik."

Jadilah aku terdidik untuk menjadi "The Best" diantara ketiga anak bapak-ibu. Sejak sebelum masuk TK,aku sudah diberi berbagai macam pelajaran. Membaca, menulis, menyanyi, menari, membuat berbagai macam prakarya, dan banyak lagi. Mungkin itu salah satu cara bapak-ibu untuk tahu bakatku ya? Untungnya juga aku suka belajar dan mencoba hal-hal baru (mencoba saja, setelah itu bosan dan kutinggalkan). Aku juga diajari tata krama dan sopan santun yang cukup saklek. Bicara sopan, bertindak sopan, menyapa dan tersenyum ramah. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Makan yang teratur dan bergizi, tidur siang, ayo mengaji. Sosok mungilku harus menanggung segala aturan yang ada dan menahan 'kenakalan anak kecil' yang sebenarnya begitu meluap-luap.

Beranjak SD.. Kelas 1, sekolahku hanya sekolah kampung yang fasilitasnya sangat tidak memadai. Hanya ada dua ruang kelas, satu ruang guru, dan gudang. Jika keblet pipis harus pergi ke sungai dan masuk ke kotak jerami untuk buang hajat (untungnya aku tidak pernah kesana), dengan resiko diintip! Belum lagi jika pulang sekolah ada 'ritual' dikejar-kejar orang gila.. Haha,,, Tapi aku tetap suka sekolah. Bertemu banyak teman, belajar, menabung, bermain.
Kelas 2, orang tuaku pindah ke Semarang. Di sana aku mulai belajar ternyata sekolah juga tempat persaingan. Aku mulai mengerti apa itu nilai, apa itu ulangan, apa itu rangking, apa itu rapor. Pembanding-pembanding yang justru merusak mental anak-anak, menurutku. Dan seperti biasa, bapak-ibu ingin aku menjadi "The Best". Masih tersisa dalam ingatan, saat nilai-nilai ulangan dibagikan, hampir di semua mata pelajaran, aku mendapat nilai 9 koma sekian... Dan aku pamer ke Bapak, bangga, dan bercerita tentang sekolah. Namun apa kata beliau?

Bapak : "Kok nilainya cuma 9?"
Aku : "Iya. Tapi ini udah bagus, Pak. Hampir semua nilai tia tertinggi di kelas."
Bapak : "Memang, nilai tertinggi harusnya berapa?"
Aku : "Ya 10 lah."
Bapak : "Kalau ada nilai 10, kenapa harus dapat nilai 9?"
Aku pun terdiam. Besok-besoknya, sudah malas bercerita tentang nilai-nilai.

Aku harus dapat rangking 1! Itu yang melekat dalam otakku. Bukankah sudah tradisi saat bagi rapot apalagi kenaikan kelas, biasanya anak-anak SD mendapat hadiah dari ortunya. Tapi bapak-ibu selalu bilang, "Kamu boleh minta hadiah kalau rangking 1". Peringkat 3 besar memang tidak pernah lepas dari tanganku. Tapi aku keseringan pegang rangking 2, dan dapat hadiah 'ceramah' dari ibu yang membanding-bandingkan diriku dengan 'si rangking 1'. Ingin sekali berteriak, "Temen tia yang rangking 10 dapet hadiah dari ortunya, kenapa tia yang rangking 2 nggak dapet hadiah?". Tapi aku sudah mengerti sudah tidak peduli. Hanya bisa menatap iri teman-teman yang pamer sepeda barunya, kotak pinsil barunya, sepatu barunya, tas barunya.

Aku harus masuk SMP terbaik! Dan lolos-lah aku ke SMP terbaik yang menjadi incaran para siswa (atau ortunya ya?) lulusan SD. Bertemu banyak orang-orang pintar, tentunya membuat prestasiku agak menurun. Lagi-lagi rangking menjadi pembanding. Sialnya aku selalu masuk kelas unggulan. Yang mana rangking 3 di kelas biasa adalah rangking 10 di kelas unggulan. Ekstrem sekali perbedaannya. Meski begitu 10 besar masih kupegang. Dengan terseret-seret tentunya. Apalagi aku agak anti sama bimbel-bimbel diluar sekolah itu.

Aku harus masuk SMA terbaik! Lolos tanpa masalah ke SMA impian lulusan siswa SMP itu. Bertemu lebih banyak lagi orang-orang pintar. Membuatku tersisih. Belum lagi beberapa organisasi yang cukup menyita waktu, ditambah otakku memang pas-pasan dan sering malas sekali baca text book, akademik terbengkalai. Rangking yang kupegang pasti diatas angka 10. Bapak-ibu masih menyindir-nyindir, membanding-bandingkan dan saling tunjuk siapa yang akan mengambil rapotku karena nggak mau menanggung malu. [Plis deh,,, nilai gue juga ga busuk-busuk banget, kok].

Aku harus masuk PTN terbaik! Meski tidak lolos ke PTN cita-citaku, bapak-ibu masih tetap bangga. Siapa ortu yang tidak bangga anaknya kuliah di UI? Bertemu lebih banyak lagi orang-orang yang pintar. Membuatku makin terseret. Nilai-nilaiku? Ah, terakhir kali bapak bertanya tentang IP dan kujawab IP-ku 2 koma sekian, bapak balik bertanya, "Memang ada IP segitu ya? Setau Bapak, IP itu antara 3 sampai 4". Huff... memang sebaiknya jangan bicara nilai di hadapan Bapakku yang pintar itu. Apa jadinya kalau beliau tahu aku pernah dapat nasakom dan nyaris DO saat kenaikan tingkat 2.

Dengan berbagai macam 'polesan', masih kupenuhi keinginan bapak-ibu agar aku jadi contoh bagi adik-adik. Aku masih tersenyum manis dan bersikap sopan di hadapan rekanan mereka. Aku masih jadi sosok penurut yang sering katakan, "Iya.." atau "Maafin tia salah...". Ingin sekali aku bertanya, memangnya kenapa kalau nilaiku jelek? Kenapa aku harus selalu bersikap jaim? Salahkah jika ternyata kuliahku DO? Aku cemburu karena adik-adikku tidak pernah dididik 'seketat' diriku. Mereka cukup bebas menjadi apa yang mereka mau.

Aku masih menjadi sosok penuh topeng yang tak bisa ungkapkan semua keinginanku sendiri. Tidak hanya di hadapan bapak-ibu dan adik-adik. Tapi di semua tempat yang setiap hari aku jejaki. Aku mulai lelah. Sering bertanya untuk apa semua ini?

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

0 cuap: