RSS

In Reality Life Was Not Easy

Senin pukul 13.00, jadwalku untuk masuk kuliah Mekanika Klasik (tenang aja, aku gak akan cerita tentang isi mata kuliah kok, lanjut aja bacanya :D), yang dosennya adalah PA-ku sendiri (beliau dulu anggota HAAJ, loh). Kali ini, sedang belajar tantang Bab Gravitasi. Sedikit (sedikiiiiitttt….) mudah dipahami dibanding Bab lalu tentang Teori Chaos (andai aku masih punya adik balita, aku akan minta dia mencorat-coret sesukanya, lalu aku masukkan ke Maple agar dapat rumus Chaosnya… ha…ha… :D). Ada yang menarik di kuliah ini. Dalam presentasi beliau, tertulis sebuah kalimat “In Reality, Life Was Not Easy”. Humm…

Kalimat itu membuatku mulai merenung. Really? Not Easy? Okay, aku tahu di luar sana hidup memang tak mudah, dan bukannya aku sok atau bagaimana, tapi mungkin aku belum terlalu merasakan “not easy” in my life. Aku hidup dalam keluarga yang harmonis, orang tua yang teramat sangat sayang padaku, adik-adik yang teramat mencintai aku, keluarga besar yang selalu bangga akan aku. Aku hidup berkecukupan (bahkan mungkin lebih), apa yang kuminta hampir selalu bisa kudapatkan. Aku miliki lingkungan yang sangat kondusif, baik secara religi maupun pola pikir. Aku miliki banyak teman, sahabat, saudara, yang teramat sangat baik dan perhatian padaku. So, where is the “not easy” in my life? Yah... mungkin saat-saat tak mudah dalam hidupku adalah saat aku patah hati dulu (mungkin hingga sekarang pun masih tersisa rasa sakitnya?) ^_^

Rabbana, maybe it’s not easy to always grateful to You... Ya...mungkin itu hal yang tak mudah bagiku. Aku yang terbiasa mendapatkan apa yang kumau, hingga seringkali lupa tuk bersyukur. Aku yang selalu ambisius dalam hal mendapatkan apa yang aku inginkan, hingga seringkali aku menuntut-Nya untuk mengabulkan semua pintaku.

Mungkin orang-orang akan berkata, coba lihat keluar, banyak yang tidak seberuntung dirimu. Banyak yang harus hidup di kolong jembatan, banyak yang terkena musibah, banyak yang tak punya orang tua, tak bisa sekolah, bahkan untuk makan pun susah. Jujur, dulu takut untuk tahu tentang itu semua. Aku paling takut membaca cerita atau berita tentang musibah, kecelakaan, pembunuhan, perkosaan, perceraian, narkoba, free sex, atau apalah yang membuat perasaan tak enak. Aku sangat takut! Karena dalam pemahamanku, hidup adalah kasih sayang, hidup adalah cinta, hidup adalah bahagia. But I know there are another “real life” in this world. Sebuah kehidupan nyata di depan mataku.

Contoh kecil, dalam kereta ekonomi yang jadi transportasi kala aku berangkat ke kampus. Jujur lagi, waktu pertama kali melihat keadaan di kereta, aku takut. Melihat pengamen buta, anak-anak kecil yang kotor dan dekil, berisiknya suara musik, apalagi pengemis dengan kaki buntung... membuat kepalaku pusing dan perut mual!(beneran pengen muntah... hueekk!) But that’s the real life! Kehidupan mereka yang nyata hingga benar-benar merasakan “In Reality Life Was Not Easy”. Mungkin ini juga alasan Allah tidak menempatkanku di Bandung sana, agar aku bisa lebih melihat kehidupan nyata hingga aku bisa banyak bersyukur. Padahal, kehidupan kereta hanya sebagian kecil saja dari kehidupan di dunia ini.

Pernah baca novel Musashi? Bagi yang pernah baca, pasti tahu tentang pendeta Takuan yang bijaksana itu (aku pengen jadi Otsu, ada yang mau jadi Musashi-nya? Hehehe... :D). Takuan pernah berkata, orang yang bahagia di akhirat adalah orang yang bahagia di dunia. Humm... tadinya aku bingung, tapi setelah dipikir-pikir, ternyata benar juga. Dan bahagia itu dapat diraih dengan bersyukur. Bersyukur akan semua yang Ia beri. Tentunya bersyukur ini dapat diaplikasikan dalam banyak hal... Sekarang mari kita pikir, akankah seorang yang kaya raya namun kikir dan selalu takut hartanya akan hilang, bisa bahagia di akhirat? Akankah seorang miskin papa yang selalu menggerutu karena kemiskinannya, bisa bahagia di akhirat? Bahkan, akankah seorang aktivis dakwah yang sering mengeluh akan beratnya beban dakwah, bisa bahagia di akhirat? Di dunia aja susah bahagia gimana ntar di akhirat... :p

Yup! Mungkin aku juga termasuk “calon-calon yang tidak berbahagia di akhirat” (Haa...jangan...!!). Karena dengan seluruh anugrah-Nya padaku saja, masih sulit bagiku untuk bersyukur. Masih sulit bagiku untuk menahan diri dan menerima semua yang Ia beri (padahal yang Ia beri itu SELALU BAIK!). Masih sulit bagiku untuk mengalahkan ego dan ambisi. Masih sulit bagiku untuk mengalahkan diri sendiri.

Yeah... In Reality, Life Was Not Easy... It’s Not Easy to Always Grateful to You, God...


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

0 cuap: