RSS

Bidadari-Bidadari... ^_^

Wah... dua hari ini spesial menurutku. Aku bertemu dua orang saudari yang amat aku cintai (yang seorang lagi belum ketemu, nieh...). Luv u always, sist... ^_^

Kemaren ketemu Nienk di bikun (bis-nya UI yang berwarna kuning). Sebenernya dia juga habis dari fisika (tempatku bertapa :D)...tapi kita ketemunya di bikun. Thanks... lu emang sahabat gw yang istimewa. Sama seperti lu menganggap gw istimewa. Lu bukan sahabat yang selalu nerima gw apa adanya, tapi juga sahabat yang bisa marahin gw saat gw salah... lu yang masih mau menyadari bahwa lu adalah satu diantara kita berempat yang punya amanah dari Allah untuk ngingetin kita semua.. Thanks... Thanks banget...!! Dan gw punya permintaan, gw pengen lu tetep anggap gw sebagai sahabat. Meski mungkin gw nggak seperti dulu lagi. Gw pengen lu tetep bisa seperti biasa sama gw... nggak usah segan atau gimana... yah, sejak waktu hari minggu gw ketemu lu sama t'Heggy juga gw ngerasa pandangan lu ke gw agak "gimana" gitu... apa hanya karena satu sisi hidup gw berubah lalu sikap lu ke gw juga berubah? Gw nggak pengen gitu... Malah gw pengen lebih bisa curhat ke lu tentang hidup gw yang makin kompleks ajah... Gw bisa jadi "belajar kembali" tentang idealisme itu, dan lu bisa belajar gimana hidup di "dunia lain itu"... Tapi yah...terserah lu sih, lu punya hak untuk ngabulin ato nggak. yang pasti, lu tetep sahabat gw yang istimewa, apapun yang terjadi ^_^

Terus, hari ini ketemu Jatu di PKM UI... tadinya waktu pertama liat agak aneh gitu...takut salah orang. Ternyata, beneran Jatu...!! Huaahh... kangen!kangen!kangen! dan layaknya sahabat lama, kami berpelukan (seperti teletubies... eh, kalau kumpul jadi pas yah? kita kan berempat :D), saling tanya kabar, dll. dan selanjutnya, bercerita tentang kehidupan masing-masing... Aku salut padamu, Jat... salut banget! Kamu masih bisa survive dalam keadaan kacau yang menimpa, kamu masih selalu bisa mengambil ibrah dari semua ujian yang Ia beri, kamu masih mampu berdamai dengan takdir... Aku salut! Hummm.... banyak yang berubah tentang kita yah? ^_^ perubahan itu pasti ada baiknya, kok... aku yakin itu. Meski kita tak lagi memegang teguh "idealisme kita dulu", meski para sahabat melihat kita sebagai sosok yang lain... tapi aku bersyukur akan keadaan ini. Dan aku yakin kamu pun begitu... hidup ini perlu disyukuri, dalam keadaan apapun itu... Ada banyak cara untuk mencintai-Nya dan mensyukuri semua nikmatnya, bukan? Kita bidadari-Nya yang cantik...bidadari-Nya yang tangguh... ^_^

Chen-men? aku belum bertemu dirimu lagih... terakhir waktu di McD itu bukan yah? atau waktu buka puasa bersama di Smansa? Kangen nih...

Bidadari... kita pasti akan lebih cantik dari bidadari surga, saudariku... Ia masih menanti kita, di surga-Nya... luv u all, sist... luv u always... ^_^


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

In Reality Life Was Not Easy

Senin pukul 13.00, jadwalku untuk masuk kuliah Mekanika Klasik (tenang aja, aku gak akan cerita tentang isi mata kuliah kok, lanjut aja bacanya :D), yang dosennya adalah PA-ku sendiri (beliau dulu anggota HAAJ, loh). Kali ini, sedang belajar tantang Bab Gravitasi. Sedikit (sedikiiiiitttt….) mudah dipahami dibanding Bab lalu tentang Teori Chaos (andai aku masih punya adik balita, aku akan minta dia mencorat-coret sesukanya, lalu aku masukkan ke Maple agar dapat rumus Chaosnya… ha…ha… :D). Ada yang menarik di kuliah ini. Dalam presentasi beliau, tertulis sebuah kalimat “In Reality, Life Was Not Easy”. Humm…

Kalimat itu membuatku mulai merenung. Really? Not Easy? Okay, aku tahu di luar sana hidup memang tak mudah, dan bukannya aku sok atau bagaimana, tapi mungkin aku belum terlalu merasakan “not easy” in my life. Aku hidup dalam keluarga yang harmonis, orang tua yang teramat sangat sayang padaku, adik-adik yang teramat mencintai aku, keluarga besar yang selalu bangga akan aku. Aku hidup berkecukupan (bahkan mungkin lebih), apa yang kuminta hampir selalu bisa kudapatkan. Aku miliki lingkungan yang sangat kondusif, baik secara religi maupun pola pikir. Aku miliki banyak teman, sahabat, saudara, yang teramat sangat baik dan perhatian padaku. So, where is the “not easy” in my life? Yah... mungkin saat-saat tak mudah dalam hidupku adalah saat aku patah hati dulu (mungkin hingga sekarang pun masih tersisa rasa sakitnya?) ^_^

Rabbana, maybe it’s not easy to always grateful to You... Ya...mungkin itu hal yang tak mudah bagiku. Aku yang terbiasa mendapatkan apa yang kumau, hingga seringkali lupa tuk bersyukur. Aku yang selalu ambisius dalam hal mendapatkan apa yang aku inginkan, hingga seringkali aku menuntut-Nya untuk mengabulkan semua pintaku.

Mungkin orang-orang akan berkata, coba lihat keluar, banyak yang tidak seberuntung dirimu. Banyak yang harus hidup di kolong jembatan, banyak yang terkena musibah, banyak yang tak punya orang tua, tak bisa sekolah, bahkan untuk makan pun susah. Jujur, dulu takut untuk tahu tentang itu semua. Aku paling takut membaca cerita atau berita tentang musibah, kecelakaan, pembunuhan, perkosaan, perceraian, narkoba, free sex, atau apalah yang membuat perasaan tak enak. Aku sangat takut! Karena dalam pemahamanku, hidup adalah kasih sayang, hidup adalah cinta, hidup adalah bahagia. But I know there are another “real life” in this world. Sebuah kehidupan nyata di depan mataku.

Contoh kecil, dalam kereta ekonomi yang jadi transportasi kala aku berangkat ke kampus. Jujur lagi, waktu pertama kali melihat keadaan di kereta, aku takut. Melihat pengamen buta, anak-anak kecil yang kotor dan dekil, berisiknya suara musik, apalagi pengemis dengan kaki buntung... membuat kepalaku pusing dan perut mual!(beneran pengen muntah... hueekk!) But that’s the real life! Kehidupan mereka yang nyata hingga benar-benar merasakan “In Reality Life Was Not Easy”. Mungkin ini juga alasan Allah tidak menempatkanku di Bandung sana, agar aku bisa lebih melihat kehidupan nyata hingga aku bisa banyak bersyukur. Padahal, kehidupan kereta hanya sebagian kecil saja dari kehidupan di dunia ini.

Pernah baca novel Musashi? Bagi yang pernah baca, pasti tahu tentang pendeta Takuan yang bijaksana itu (aku pengen jadi Otsu, ada yang mau jadi Musashi-nya? Hehehe... :D). Takuan pernah berkata, orang yang bahagia di akhirat adalah orang yang bahagia di dunia. Humm... tadinya aku bingung, tapi setelah dipikir-pikir, ternyata benar juga. Dan bahagia itu dapat diraih dengan bersyukur. Bersyukur akan semua yang Ia beri. Tentunya bersyukur ini dapat diaplikasikan dalam banyak hal... Sekarang mari kita pikir, akankah seorang yang kaya raya namun kikir dan selalu takut hartanya akan hilang, bisa bahagia di akhirat? Akankah seorang miskin papa yang selalu menggerutu karena kemiskinannya, bisa bahagia di akhirat? Bahkan, akankah seorang aktivis dakwah yang sering mengeluh akan beratnya beban dakwah, bisa bahagia di akhirat? Di dunia aja susah bahagia gimana ntar di akhirat... :p

Yup! Mungkin aku juga termasuk “calon-calon yang tidak berbahagia di akhirat” (Haa...jangan...!!). Karena dengan seluruh anugrah-Nya padaku saja, masih sulit bagiku untuk bersyukur. Masih sulit bagiku untuk menahan diri dan menerima semua yang Ia beri (padahal yang Ia beri itu SELALU BAIK!). Masih sulit bagiku untuk mengalahkan ego dan ambisi. Masih sulit bagiku untuk mengalahkan diri sendiri.

Yeah... In Reality, Life Was Not Easy... It’s Not Easy to Always Grateful to You, God...


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Klarifikasi Penting!!

Klarifikasi!!!

Melalui blog ini, aku hanya ingin meng-klarifikasi sebuah gossip dan pandangan teman-teman semua, meski mungkin nggak semua yang pengen aku kasih tau tentang klarifikasi ini bakal baca blog aku. Tapi setidaknya beberapa teman pasti ada yang baca… Maka aku umumkan (resmi banget, yah?) bahwa sebenarnya, aku nggak pernah jadian sama "dia"!! (sorry, aku selalu berusaha untuk nggak nyebut merk dalam tulisan umum). Yah, kalian pasti tahu aku dekat dengan siapa, kan? Tapi beneran, we’re just close friend. Okelah, dibandingkan dengan sahabat cowok lainnya, dia memang termasuk yang paling dekat. Tapi sekali lagi beneran, kita nggak jadian ataupun pacaran ataupun apalah namanya… Memang aku (kami, maksudnya) akui, kita emang deket. Suka jalan bareng, cerita-cerita, makan bareng, atau nggak jarang aku ke Bandung untuk ketemu dan pergi bareng dia. Ataupun dia yang ke Bogor. Tapi seriusan itu cuma buat happy-happy atau seru-seruan aja. Karena kita ngerasa saling cocok dan lebih bisa jadi diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. Yah… kami maklum kalau temen-temen curiga akan kedekatan kami yang mungkin sedikit berbeda dibanding kalau dekat dengan yang lain. Tapi sekali lagi serius, kami nggak jadian, dan nggak ada “rasa” apapun (Eh, lu ada “rasa” sama gw, ga? Ha...ha.. :D).

Buat “kamu”. He... he... sorry menggagalkan rencana. Emang sih, kamu bilang mestinya kita cuekkin aja apa kata orang tentang kita. Toh, sebenarnya kita nggak ada apa-apa. But, you know... nggak semua orang bisa mengerti cara berpikir kita yang memang spesial ini :p . Jalani seperti biasa... toh setelah baca blog ini, semoga mereka ngerti kalau kita deket juga karena ada unsur sengaja pengen bikin gosip... hi...hi...hi... :D


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Everybody's Changes

Kemarin, tepatnya 3 Feb 07, aku datang ke rumah salah seorang sahabat. Ngebut dengan motor tersayangku menembus hujan yang sudah seminggu ini selalu turun sepanjang hari. Jika bukan karena janji, sudah malas rasanya aku pergi. Lebih baik mengurung diri di kamar dengan selimut tebal sambil dengar musik, nonton film, atau ngetik-ngetik. Namun janji harus ditepati, bukan? meski ortu sudah melarang dengan alasan "Teh, hujan. Ntar kalau kamu sakit gimana?" Tapi sayang, larangan tak mempan bagi anak bandel tapi penuh prinsip sepertiku :D

Sesampainya di rumah sahabatku itu, sudah berkumpul 5 orang sahabatku yang lain. Kami memang janjian mau kumpul-kumpul hari ini. Harusnya ada 12 gadis, sayang yang datang hanya setengahnya. Dan saat bertemu denganku, mereka langsung memberondong dengan sebuah pertanyaan, "Pet, katanya lo sekarang udah ******, ya?" Dziiiiinnnngg... jujur aku langsung terpaku. Bingung harus jawab apa. "Kalian tahu dari mana?" aku balas bertanya. "Dari si ******, katanya lo... bla.. bla..". Aku nyengir kuda, dan mengiyakan. Terang mereka langsung menjerit histeris (bayangkan cewek-cewek kalau menjerit karena suatu hal remeh tapi menarik bagi mereka), dan memaksaku untuk langsung bercerita "kronologis" dari salah satu bagian kehidupanku itu. Sebelum berecrita, aku terlebih dulu menanyakan salah satu sahabat lain, "Dia dateng nggak nanti?", jujur aku perlu menanyakan hal itu, karena jika ia tahu tentang ceritaku ini, aku yakin dia akan kecewa berat..berat..berat..! Dia akan merasa gagal sebagai seorang sahabat, dia akan menyesal telah jauh dariku, dia akan... Ahh...maafkan aku, kawan...

Lalu, mulailah aku bercerita... dari awal, sampai akhir. Tentang hatiku, tentang perasaanku, tentang perjalananku, dengan dirinya... Dan para sahabatku cukup terpana, seseorang berkata, "Gila, Thipet... nggak nyangka, ya..."

Yup!! Teman-teman yang tahu seperti apa saat aku SMA pasti tidak akan percaya akan ceritaku. Apalagi sahabat-sahabatku dari "dunia itu". Mereka pasti akan marah, kecewa, sebel, menyesal, dll. Aku yakin itu... karena aku dan mereka pernah saling mencintai, dulu... Masihkah kalian mencintaiku, sekarang? Aku tidak tahu... masihkah kalian mau menerimaku sekarang? Maaf...mungkin karena aku merasa ditinggalkan oleh kalian (atau aku yang berlari?). Mungkin aku merasa kalian terlalu melepasku (atau aku yang tak ingin dikekang?). Mungkin karena aku merasa kalian terlalu percaya bahwa aku akan tetap istoqomah di manapun aku berada, mungkin karena kalian terlalu percaya aku bisa menjaga diriku sendiri... Nyatanya tidak, kawan... Aku yang tampak tangguh ini, sebenarnya sangat rapuh... Aku yang tampak selalu jadi penopang ini justru sangat butuh orang lain menopangku... Dan ternyata, bukan kalian penopangku itu... Maaf...

Beruntungya, sahabat-sahabatku yang mendengar cerita ini adalah orang-orang yang bisa menerima sahabatnya dalam keadaan apapun. Mungkin mereka terkejut tentang keadaanku, tapi aku yakin mereka tidak men-judge aku salah. Aku yakin mereka mengerti keadaanku seperti apa. Thanks a lot, sist!! Juga buat "Die", aku salut dengan prinsipmu (yang dulu juga pernah jadi prinsipku). Kamu masih bisa pegang itu, meski berkali-kali terjatuh... padahal seingatku, dulu aku yang sering mengingatkanmu tentang itu, ya... ^_^

Buat yang merasa kecewa denganku, Sorry I can't be perfect... ^_^ Aku memang berubah... berubah banyak. Tapi apakah kalian tahu, aku bersyukur dengan perubahanku ini. Aku berysukur karena Allah mengujiku dengan semua perubahan ini... Karena kini aku jadi bisa lebih dewasa, lebih terbuka, lebih mencinta... ^_^

"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

Aku ini Cewek Matre, Loh! :p

Kesannya gimana… gituh kalau dibilang cewek matre, alias materialistis atau apalah… Yang ada di benak masyarakat umum, cewek matre pastilah yang suka belanja, jalan-jalan, senang-senang, tapi nggak mau pakai duit dia sendiri. Dan kalau cari pacar atau bahkan teman, selalu cari yang tajir, supaya bisa “dimanfaatkan” untuk memuaskan hobinya itu. Salahkah jadi cewek matre? It’s depend of u…

Lalu, mengapa aku mengakui kalau aku cewek matre? Orang-orang yang dekat denganku pasti akan berkata setuju kalau aku cewek matre. Bahkan salah seorang sahabat cowokku waktu SMA pernah bilang “Lu cewek paling matre yang pernah gue temui!” :D Entah dia serius atau tidak, tapi Ibuku juga mengatakan hal yang sama ;p. Matre atau matreialistis. Yah… dalam hal mencari cowok sepertinya aku memang matre. Suatu hari nanti, aku ingin punya suami yang tajir. Mengapa? Karena aku suka pria yang mau bekerja keras dalam mencari penghasilan sendiri (yang halal tentunya), daripada yang mengandalkan orang tua saja. So, bagi kalian pria-pria yang masih meminta uang pada orang tua, jangan harap bisa jadi cowok-ku J (Aiih… siapa yang mau, gituh… ;p).

Setiap wanita, pasti ingin hidup mapan dan nyaman tentunya, termasuk aku. That’s why aku butuh cowok pekerja keras (yang mau bekerja keras supaya tajir). Demi kenyamanan, kesehatan, keharmonisan, dll. Jangan mau menerima seseorang sebagai pendamping hidup hanya dengan bermodalkan cinta. Dan dengan cinta kita menerima orang tersebut apa adanya. No! Kalau buat aku, cinta boleh lah… tapi tidak dengan cinta aku menerima seseorang apa adanya. Justru karena cinta, aku harus bisa merubah orang tersebut menjadi lebih baik. Termasuk dalam masalah materi. Kalau suatu hari aku bertemu seorang pria yang nggak tajir, lalu kami saling mencintai, aku akan berusaha keras supaya dia tajir, dan dia pun harus mau berusaha tajir demi aku. Maklum, aku kan wanita berwajah sendu (seneng duit :D).

Perempuan baik di dunia ini banyak… banyak banget, malah. Mereka yang mau menerima kondisi suaminya yang pas-pasan dengan ikhlas, mereka yang bisa diajak “susah”, mereka yang senantiasa mau bersyukur atas penghasilan suaminya berapapun itu, mereka yang bahkan ikut membantu sang suami mencari penghasilan. Wanita-wanita seperti itu banyak sekali… Namun buat para cowok, nih… terutama yang masih punya penghasilan pas-pasan atau bahkan belum punya penghasilan sama sekali, apa salahnya kalian “MENTAJIRKAN DIRI” demi seorang wanita yang teramat kalian cintai? Meski wanita itu tidak menuntut macam-macam pada kalian. Uang dan harta harus banyak, tapi cara penggunaan kan terserah saja. Punya banyak uang tapi tetap hidup sederhana itu bahkan sangat bagus… ^_^

Tajir itu, punya banyak keuntungan. Pertama, yang pasti kalau kita ada kebutuhan mendadak seperti ada keluarga yang sakit, kita nggak perlu kelabakan cari pinjaman uang. Kedua, kita bisa lebih banyak memberi pada orang-orang yang membutuhkan, kita bisa lebih sering zakat. Karena memberi adalah salah satu obat penyakit hati. Memang memberi itu tidak selalu dengan uang dan harus dengan tulus, tentunya. Bisa saja dengan uang yang dimiliki, kita membuka lapangan pekerjaan lalu mempekerjakan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan pekerjaan. Ketiga, kita bisa membeli apapun yang kita butuhkan (bukan hanya yang kita inginkan loh, ya. Itu namanya konsumtif!). Seperti makanan yang sehat, vitamin, suplemen tubuh, pakaian pantas, buku, kendaraan yang nyaman, dll. Dan masih banyak keuntungan lainnya kalau kita tajir.

Uang memang bukan segala-galanya. Namun, segala-galanya belumlah lengkap tanpa uang.. hehe.. :D bercanda,ding! Maksudnya, uang memang bukan segala-galanya jika tidak disyukuri. Dan bagaimana cara mensyukuri itu? Ah, banyak orang yang lebih tau dibanding aku. Kalau menurutku, cara mensyukurinya dengan memanage uang itu sesuai porsi dan tempatnya. Sekian rupiah untuk makan, sekian rupiah untuk pendidikan, sekian rupiah untuk keperluan pribadi, sekian rupiah untuk memberi pada orang lain, sekian rupiah untuk ditabung, sekian rupiah untuk lain-lain. Atur-atur sajalah... :p

Yup! Itulah mengapa kita harus jadi orang tajir! Eits..., tapi meski aku pengen punya suami tajir dan aku matre, tapi bukan berarti aku hanya mengandalkan sepenuhnya penghasilan suami loh, nantinya. Aku paling anti ditraktir-traktir terlalu sering sama cowok! Apalagi cowok itu lagi pedekate sama aku, misalnya. Kalau kalau untuk event-event spesial, seperti ulang tahun, itu sih ga masalah... :p Aku harus punya penghasilan dan tabungan sendiri. Karena itu adalah salah satu penilaian dari harga diri perempuan. Karena dengan itulah seorang wanita menjadi lebih percaya diri. Karena dengan itulah seorang wanita akan merasa dirinya berharga. Ini bener loh, secara psikologis.

Para wanita, memang boleh mencari suami tajir. Harus, malah! :D Tapi jangan turunkan harga diri kalian hanya dengan menerima uang dari suami. Kalau terbentur dengan urusan keluarga dan rumah, itu sih bisa diatur. Banyak kok pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Jadi penulis, translater, progammer, atau membuka usaha sendiri seperti menjahit dan buka toko kelontong. Tentunya, dengan tidak terlalu memikirkan berapa penghasilannya (jika dengan penghasilan suami sudah cukup). Tidak perlu menuntut diri ingin lebih berhasil dari suami lalu terus-menerus bekerja (meski di rumah), hingga urusan rumah berantakan. Yang penting, ada kegiatan dan bisa punya penghasilan sendiri meski sedikit. Kalau suami melarang? Humm...rata-rata pria di Indonesia memang seperti itu sih... (nggak semua loh, ya). Masih minder kalau istrinya lebih pintar, lebih sukses, lebih tajir. Kenapa ya? Hingga banyak dari mereka yang melarang istrinya bekerja. Dengan alasan, lebih baik harus ngurus rumah lah, ngurus anak lah, ngurus suami lah, dll. Istilah kasarnya sih, siang hari dukurung di dapur malam hari diperkosa di kasur. Kalau gitu,sih... makanya sebelum nikah cari suaminya bener-bener! Jangan sampai dapet yang seperti itu :p

Humm..udah banyak ya, tulisannya. Yah...uraian di atas jangan dianggap sebagai sesuatu yang dipukul rata. Nggak semua wanita seperti itu, kok. Ada juga wanita-wanita yang memang lebih suka diam di rumah dan mengurus keperluan keluarga… Untuk para pria, carilah wanita yang sesuai kriteriamu. Untuk wanita, carilah pria yang sesuai kriteriamu. Yang sepaham, agar bisa meminimalisir masalah yang akan muncul nantinya. Aduuh… plisss, deh! Gue sok tua banget gitu loh…! Padahal kan gue belom nikah… :D



"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."