RSS

Penumpang-penumpang Kereta

Pagi ini, masih seperti biasa, aku berangkat ke kampus dengan sedikit terlambat karena sebelumnya terlalu asyik menelpon seseorang sambil tidur-tiduran ;p. Yang seharusnya aku bisa naik kereta semi express pakuan jam 08.27, akhirnya harus rela naik KRL ekonomi jam 9an (imbuhan -an, yang menandakan suatu ke-ngaret-an, jam Indonesia).

Penumpang kereta=orang yang naik kereta... sebenarnya agak rancu juga. Penumpang berasal dari kata tumpang. Lebih jelasnya, orang yang menumpang, dan menumpang artinya nebeng... dan biasanya nebeng itu nggak modal alias nggak bayar... tapi aku kan beli karcis? jadi namanya apa dong? masih penumpang juga? (nggak usah dipikirin, iseng doang kok)

Masih seperti hari-hari sebelumnya, KRL hari ini penuh sesak dengan penumpang (yang insyAllah pada beli karcis) dari berbagai macam kategori. Mulai dari karyawan, sampai pengemis. Masih terlihat kotor, mulai dari tanah becek sampai botol *q*a. Masih terlihat "mengenaskan"...

Setelah masuk ke dalam KRL yang "mengenaskan" itu, aku memilih tempat di dekat pintu. Berdiri. Bukan karena cari mati, hanya saja jika aku mengambil posisi lebih ke dalam, bisa-bisa sampai ke Planetarium, bukan ke UI ;p. Dan aku berdiri karena memang tak ada tempat duduk tersisa (namanya juga penuh amit-amit). Di hadapanku, duduk seorang kakek yang tampak melihatku dengan tatapan kasihan, beliau bertanya "Neng, mau ke mana? banyak amat bawaannya? Saya cuma sampai Cilebut (nama Stasiun setelah Bogor.red), nanti Neng duduk di sini aja." Subhanallah... seorang kakek yang teramat peduli... sepertinya beliau cukup takjub dengan barang bawaanku yang menurutku sudah biasa. Sebuah ransel dan tas cangklong dengan ukuran big size. Biasalah... cewek memang sering membawa barang-barang kurang penting yang sering dianggapnya penting :D

Di samping kakek itu duduk seorang ibu dan purtinya yang terlihat dari kalangan "kelas atas". Tampak penampilan mereka dan gerak-geriknya yang tidak betah di KRL ini meski menurutku cukup Alhamdulillah karena mereka mendapatkan tempat duduk. Di belakang, sisi kanan-kiri, dan di tempat-tempat lainnya, penumpang masih bertambah... menambah sesak.

Dan sesak itu ditambah dengan pedagang-pedangang yang menjaja jualannya. Ada penjual minuman, tahu-lontong, bros dan jepit-jepitan, koran, buah, tisu, banyak deuh... Belum lagi pengamen dengan berbagai kriteria tampilan dan musik. Dari krtiteria tampilan, ada orang tua, pemuda remaja, kakek-nenek, balita, orang buta, terkadang bencong (jarang sih, tapi pernah liat). Sedangkan dari musik, lengkap mulai dari keroncong sampai dangdut. Dan jangan lupa, peminta-minta yang juga turut meramaikan suasana dengan segala macam atributnya. Ada yang buta, patah kaki, cacat tubuh, dan lainnya... Tak jarang juga orang-orang yang mengatasnamakan Islam dan pembangunan Masjid ikut meramaikan meminta sumbangan. Pokoknya banyak deh! Satu gerbong yang ramai akan suasana, bukan? Sayangnya, bukan suasana yang menyenangkan. Salah satu sahabatku yang pernah kuajak naik KRL ini pernah berkomentar, "Gila! mereka itu ngemis atau ngerampok?!" Humm...karena tak kurang dari setiap 5 menit, pasti ada penumpang kereta yang menyodorkan bungkusan, siapa tahu kita bisa memberi mereka uang.

Namun, itulah salah satu potret dari wajah negara kita, Kawan... Negara kita tercinta, Indonesia...


"aku hanya miliki cinta...
dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."

0 cuap: