RSS

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin


Cinta tak bisa dirahasiakan. Serapat apapun cinta ditutupi, sedalam apapun cinta dipendam, secuek apapun cinta diabaikan, ia akan tetap ada, tetap tumbuh. Jika sudah begitu, mengapa tidak diungkapkan saja? Dan jika semua sudah terlambat, cinta tak harus memilki.

Ini adalah buku karangan Tere Liye kesekian yang pernah saya baca. Setelah saya jatuh cinta pada goresan penanya pada novel Hafalan Shalat Delisa (kapan-kapan akan saya review di sini juga) karena sukses membuat saya menangis tergugu. Dan selanjutnya takjub oleh The Gogons, novel populer yang sarat makna. Beberapa karangannya yang lain, lalu novel terbarunya ini, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Yang saya khatamkan dalam waktu beberapa jam.

Novel ini mengambil sudut pandang orang pertama, di mana sosok "aku" adalah Tania, si cantik yang pintar namun nasibnya tak seindah parasnya. Ia masih berusia 11 tahun ketika harus hidup menggelandang menjadi pengamen bersama adik lelakinya, Dede. Hidup di jalanan, tinggal di rumah kardus, dipalak pengamen, naik turun angkutan umum, demi mencari uang. Lupakan tentang sekolah, lupakan tentang belajar, lupakan punya seragam dan sepatu, apalagi makan di restoran, lupakan saja. Dan takdir memang tidak bisa dielak, sosok pemuda baik hati bernama Danar memberi Tania dan keluarganya semua yang mereka butuhkan. Perlahan, kehidupan mereka membaik, mereka bahagia, sang malaikat telah menolong mereka. Namun lagi-lagi takdir tak bisa dielak, ketika Ibunya harus pergi untuk selamanya.

Kisah berlanjut seiring bertambahnya usia Tania. Ia yang harus pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah, meninggalkan Dede pada Danar, dan hidup mandiri. Lalu ia mulai mengenal rasa cinta pada malaikat penolongnya, rasa cemburu, rasa tersisih, rasa kecewa, rasa kehilangan. Cintanya tak tersampaikan, Danar menikah dengan wanita lain.

Dari segi cerita, mungkin biasa saja karena banyak novel lain yang mengangkat tema sama. Namun gaya penceritaan Tere Liye tetap mengalir dan membuat betah membacanya. Meskipun menurut saya untuk novelnya kali ini tidak se-menakjubkan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang mengangkat tema mirip, anak jalanan mengenal cinta. Novel ini seperti masih meninggalkan banyak puzzle yang tak terpasang. Selain itu, karakter masing-masing tokoh tidak terlalu dieksplor dengan kuat. Mungkin karena sudut pandang "aku", yang mana setahu saya novel Tere-Liye lain menggunakan sudut pandang "pencipta segala" sehingga lebih bebas mengungkapkan perasaan masing-masing tokoh.

But at least, saya tetap suka dengan makna yang diberikan cerita ini.

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Tere-Liye

Harga       :     Rp 32.000,- *
Ukuran     :     13.5 x 20 cm
Tebal        :     264 halaman
Terbit       :     Juni 2010
ISBN13   :     9789792257809
 
"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." 
"Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

Perahu Kertas: Membawamu Ikut Berlayar


Dongeng tetaplah dongeng. Dengan akhir "And they live happily ever after". Jalan yang berliku, petualangan menegangkan, pengorbanan, doa-doa tulus, harapan tak pernah pupus, dan cinta sejati. Klasik sekali bukan? Dan cerita dongeng, meski klasik selalu memiliki penggemar setia, termasuk saya.

Karya Dee kali ini bisa saya bilang dongeng modern. Karena ceritanya memang klasik, seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Hanya saja, setting latar belakang ada di zaman modern. Atau sebenarnya dongeng itu sebuah cerita sepanjang zaman? Tanpa ada kata klasik atau modern. Ah, entahlah. Saya hanya merasa cerita dalam Perahu Kertas ini memiliki tema yang umum, tidak beda jauh dengan cerita-cerita cinta masa kini. Namun, saya jujur mengakui sangat sangat sangat excited saat membaca novel ini. Gaya tulisan Dee menakjubkan! Membuat saya betah tidak melepas novel tersebut dalam perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta-Bogor. Padahal sedang piknik keluarga, dan Dee dengan Perahu Kertas nya telah menyedot perhatian saya, mengajak berlayar lembar demi lembar halamannya.

Bercerita tentang Kugy, mahasiswi, eksentrik, pengkhayal dan menulis cerita. Saya suka bagaimana Dee menceritakan karakter Kugy. Karena Kugy seorang penulis dan pengkhayal, dia tampak "aneh". Mungkin terlalu sering asyik dan bermain-main dengan pikirannya, dunianya. Ia cerdas, baik hati, dan sensitif. Ya, saya yang juga penulis *ngaku-ngaku* merasakan hal itu. Sensitif, sering menyembunyikan perasaan sendiri, dan egois.

Lalu ada Keenan, si pelukis. Jujur saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi pelukis. Tapi sepertinya sifat sensitif dan pemalu menjadi bagian dari diri Keenan. Tentang Keenan, Dee berhasil mengaduk-ngaduk perasaan saya karena kesal pemuda tersebut tampak tidak bisa tegas terhadap perasaannya sendiri hampir di seluruh cerita. Tapi ya itu tadi, mungkin ia pelukis yang pemalu, yang sering merasa tidak enak dan ingin membuat orang lain bahagia. Meski sifat keras kepala khas lelaki tetap ada pada diri Keenan.

Untuk jalan cerita, ah sepertinya saya tidak perlu menceritakan detailnya. Saya hanya ingin mengomentari Dee yang piawai dalam menceritakan pribadi tiap tokohnya. Noni dan Eko yang ceria, tipikal sahabat sejati. Gadis Jakarta pecinta Keenan yang lebay ala artis sinetron. Luhde yang anggun dan rendah hati khas gadis Bali. Dari tokoh-tokoh ini, saya melihat Dee sangat mengeksplore kultur budaya. Noni-Eko yang khas mahasiswa Bandung, si gadis (lupa namanya euy) yang anak gaul Jakarta, juga Luhde yang menceminkan budaya Bali.

Saya suka buku ini, karena Dee mampu menghanyutkan emosi pembacanya.

456 pages
Published August 29th 2009 by Bentang Pustaka & Truedee (first published 2009)
ISBN13
9789791227780
primary language
Indonesian

"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." "Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

Dark and Sexy Novel: Hush Hush


Dark, mysterious, tense, and sexy.

Yap itulah gambaran suasana tentang novel ini. Bercerita tentang Nora, seorang gadis biasa yang sangat diproteksi oleh Ibunya. Kehidupannya hanya berada di sekitar rumah, yang selalu dijaga oleh pembantu layaknya seorang baby sitter untuk Nora. Lalu di wilayah sekolah bersama sahabatnya yang ekspresif dan ceplas-ceplos, Vee. Dan memang, kehidupannya sangat biasa-biasa saja sampai ia diminta oleh gurunya untuk berpartner dengan Patch, si ganteng berambut hitam dengan warna bola mata yang sama, namun menyebalkan.

Di usianya yang keenam belas, Nora mulai merasakan keanehan. Ia sering merasa dibuntuti kemanapun ia pergi. Berawal ketika ia berkendara sendiri menggunakan mobil Vee untuk pulang ke rumahnya dan "merasa" menabrak seseorang -ia melihat wajahnya. Namun orang tersebut hilang, dan saat berbalik ke rumah Vee, bekas lecet di mobil ikut hilang. Nora hanya berhalusinasi. Sayangnya, setelah berapa lama kejadian itu tidak lagi menjadi halusinasi. Ketika siapa pun yang "tampak" seperti dirinya mati terbunuh, satu per satu. Benar, Nora dikejar oleh seseorang, atau sesuatu? Lalu apa hubungannya dengan kematian ayahnya hampir dua tahun lalu? Dan Patch, si partner menyebalkan itu selalu menyelamatkannya. Nora merasa heran mengapa harus Patch? Hingga suatu ketika ia memeluk pria itu, Nora tersedot ke sebuah putaran masa lalu milik Patch. Ternyata Patch adalah Malaikat Terbuang.

Nora yang masih merasa kebingungan dengan semua hal yang terjadi hanya menginginkan ibu dan sahabatnya, Vee, selamat. Tapi hal yang diinginkan tidak selalu terjadi. Ketika polisi dan detektif datang dan menginterogasi ibunya yang tidak tahu apa-apa. Lalu Vee terjebak rayuan si pembunuh misterius dan akhirnya disandera. Nora harus menyelamatkannya, meski nyawa taruhannya.

Membaca kisah novel ini mengingatkan saya pada beberapa novel lain. Seperti kisah Nora-Patch mirip dengan Bella-Edward di Twilight Saga. Ataupun persahabatan Nora-Vee seperti Mia Thermopolis-Lilly Moscovitz dalam cerita seru Princess Diaries. Bukan sesuatu hal yang baru memang ketika sebuah novel menceritakan makhluk “jadi-jadian” dengan segala romantismenya. Namun Becca Fitzpatrick berhasil meramu Hush Hush menjadi unik dengan mengedepankan keempat unsur yang saya sebut paling atas.

Suasana kelam menghiasi hampir keseluruhan cerita ini. Unsur misteri menjadikan pembaca selalu bertanya-tanya ada hal menegangkan apa dibalik semua kejadian. Becca Fitzpatrick sangat sangat cerdas menghubungkan potongan-potongan cerita menjadi kesatuan utuh yang menegangkan dan seru. Dan Patch, wow... Bayangan pembaca tentang pria seksi ini akan menjadi daya tarik tersendiri. Saya membaca novel Hush Hush ini dengan rasa tegang dan penasaran di setiap lembarannya. Dan salut untuk Fitzpatrick yang bisa menggambarkan detail suasana hingga saya sebagai pembaca dapat membayangkan setiap kejadian dengan jelas.

Dan saya tidak sabar menantikan kelanjutan novel ini, Crescendo.

Judul: Hush, HushPenulis: Becca FitzpatrickPenerbit: Ufuk PressCetakan: I, Desember 2009Tebal: 488 halaman

"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." "Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

Selamat Idul Fitri

Maklum terlambat baru balik mudik... *sokmudiksokpunyakampung* ;p

Kami, Rhein Fathia dan segenap keluarga besar Syahroni Susanto mengucapkan:


Selamat Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin


Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang beruntung untuk dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya.. Aamien.. ^^

"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." "Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

City of Bones-Alur yang Tidak Mudah Ditebak

Satu lagi novel fantasi yang menyuguhkan kisah tentang tokoh mitos dan romansa hadir memanjakan pembaca. Cerita tentang Clary Fray, gadis (hampir) 16 tahun, yang tiba-tiba harus kehilangan Ibunya, Jocelyn, akibat kisah masa lalu yang selama ini menjadi misteri. Ditengah rasa panik ingin mencari sang Ibu, justru ia dikejutkan oleh munculnya Pembuas yang nyaris membuat nyawanya melayang. Belum lagi dengan sosok para Nephilim, manusia setengah malaikat, yang menyembunyikan dirinya agar ia terhindar dari bahaya yang terus menerus mengikuti. Salah satunya adalah Jace, pemuda berambut keemasan yang sinis, sombong, dan selalu bersikap seolah tidak peduli. Masih ditengah rasa kalutnya, Clary harus dihadapkan dengan munculnya sosok Vampir, Iblis, Manusia Serigala, Warlock, hingga para Peri. Sebuah pertanyaan besar dalam benak Clary, mengapa ia bisa melihat banyak hal yang ternyata tidak dapat dilihat orang lain?

Demi menyibak tabir misteri masa lalu yang selama hampir 16 tahun tertutup akibat ingatan Clary yang terkunci sihir, ia harus menghadapi petualangan yang suram dan berbahaya. Clary harus mendatangi Saudara Hening di Kota Tulang untuk mengorek kisah hidupnya. Berhadapan dengan para Vampir demi menyelamatkan Simon, sahabatnya. Dikejar serombongan Manusia Serigala, bahkan menghindari serangan prajurit Yang Terabaikan. Hingga ia bertemu Valentine, sosok yang diketahui Clary sangat berambisi memiliki Piala Mortal agar dapat berkuasa. Namun kepada siapa ia harus percaya ketika sepotong demi sepotong cerita yang diterimanya justru ternyata kebohongan belaka. "Itu cuma dusta yang dicampur dengan sedikit kebenaran".

Novel pertama dari trilogi The Mortal Instruments karangan Cassandra Clare ini sangat menarik untuk dibaca. City of Bones dituliskan menjadi pembuka sebuah petualangan panjang yang akan membuat pembaca semakin penasaran dengan detail penulisannya. Pembaca akan diajak berimajinasi menyusuri kota-kota besar seperti New York, Manhattan, Brooklyn, bahkan daerah kumuh yang ternyata dapat menjadi rumah para Vampir. Ditambah dengan uniknya peralatan perang para Pemburu Bayangan seperti gelang cambuk hingga motor berkekuatan Iblis. Dan tentunya tidak lupa bumbu kisah cinta menjadi daya tarik tersendiri. "Setengah perhatianmu lebih baik daripada seluruh perhatian orang lain".

Sekilas, isi novel dan tokoh ciptaan Clare ini mungkin tidak jauh berbeda dengan novel fantasi lain. Tokoh-tokoh mitos, perebutan kekuasaan, kisah masa lalu yang hilang, tentu sudah pernah kita ketahui sebelumnya. Namun yang menarik dari karya Clare ini adalah alur yang unik dan sulit ditebak. Lembar demi lembar cerita menyuguhkan kejutan yang tidak disangka. Ending yang mencengangkan pun semakin membuat pembaca penasaran dengan keutuhan cerita trilogi The Mortal Instruments ini. 

Selain itu, yang saya suka adalah gaya penulisan Clare yang mendetail dan mengalir, seakan kita ikut dalam petualangan setiap tokohnya. Percakapan antar tokoh yang segar dituliskan secara piawai sehingga saya tidak bosan membaca hingga lembar terakhir. Alur, penokohan karakter, dan setting cerita dalam novel ini sangat seru. Bagi pecinta novel fantasi, City of Bones ini jangan sampai terlewatkan.

Judul : City of Bones
Penulis : Cassandra Clare
Penerbit : Ufuk Press
Penerjemah Indonesia : Melody Violin
Halaman : 664 halaman
Harga : Rp. 89900


"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..." 
"Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

Kok Ada Cewe Kayak Gini

Astagfirullah, Mbak...
Kamu tuh kan ya udah punya pacar, kok ya masih ngerecokin mantan-mantanmu sih? Kok ya masih ngeledek-ledek pacar-pacarnya mereka, sih? Ga bahagia sama pacar sendiri, ya? Ya mungkin kamu emang ga pantes buat siapa-siapa... Malu-maluin, sih...

Dendam??

Sadar diri dong ah, kalau kamu emang nggak layak pilih.. Temennya juga lagi, ih. Sok eksis. Bitchie begitu...

=.="
 
"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."
"Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."

Wanita Selayaknya??

Hey, tak bisakah aku bersikap seperti wanita selayaknya? Ketika menghadapi masalah, maka ia panik, ia menangis, ia curhat sepuasnya dan cerewet merepet kemana-mana selayaknya dunia hampir  berakhir. Khas wanita, kan? Karena dia mengungkapkan segala yang dirasa dengan mudah, gamblang, dan jujur.

Tidak seperti tingkah saya ini. Malah tersenyum, otak berfikir dengan jernih, logika berjalan menyusun startegi, sulit keluar air mata. Padahal nun jauh di lubuk hati, saya panik setengah mati!!


"aku hanya miliki cinta, dengan cintaku, semoga kalian bahagia..."
"Tidak pernah ada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan..."